Seperti biasa pada jam-jam tertentu di sore hari, ada dorongan yang sangat kuat di dalam hatiku untuk masuk dalam suatu penyembahan yang dalam dan intim dengan Tuhan Yesus. Hari itu dorongan itu begitu kuatnya sehingga aku harus memberhentikan seluruh kegiatan sore hariku dan mulai menyembah Yesus. Penyembahan itu begitu dalam dan manis, aku merasakan kehadiran Tuhan Yesus dalam ruang keluargaku, hatiku begitu bergairah dengan Tuhan. Lalu aku merasakan aku sudah tidak berada dalam ruang keluargaku. Aku seperti berada di bawah kaki sebuah gunung. Aku melihat seorang laki2 berambut ikal sebahu dan memakai baju selutut berwarna putih dengan pinggangnya terikat oleh sebuah tali putih juga dan memakai sepatu kulit bertali. Wajahnya tampan sekali. Dia berjalan tergesa-gesa sambil sebentar-sebentar menengadahkan kepalanya keatas seperti sedang mendengarkan perintah dari atas. Dia menuruni undakan anak tangga tanah itu, kearahku yang tepat sedang berdiri dibawah anak tangga itu.
Ketika sampai didepanku, tanpa banyak bicara dia memberikan aku sebuah busur dan anak panahnya yang terbuat dari emas. Aku menerimanya sambil takjub akan bentuk busur itu. Aku melihat laki2 ini naik keatas kembali, kali ini aku mengikuti dia. Aku berjalan menaiki anak tangga tanah itu, tapi setiap kakiku menginjak anak tangga tanah yang menuju keatas itu, anak tangga itu berubah menjadi batu pualam berwarna putih bersih. Pakaianku pun berubah mengikuti langkahku keatas dan menjadi sebuah baju pengantin yang indah sekali.
Aku menoleh kearah kiriku karena merasa aku tidak sendirian, dan benar ada seekor burung rajawali dengan bulu berwarna putih lembut yang berjalan tepat dibelakang kiriku. Dikepalanya ada sebuah mahkota emas kecil. Sayapnya yang besar menudungi aku, dan akhirnya aku baru menyadari bahwa rajawali itu mempunyai ukuran tubuh setinggi ukuran manusia dan berjalan selayaknya manusia. Wajah rajawali ini begitu arif dan bijaksana sehingga aku merasa kehadiran dia membuat hatiku tenang dan mantap untuk terus naik gunung tersebut.
Setelah aku mencapai suatu ketinggian tertentu, tiba-tiba aku melihat ooh..Tuhanku..Kekasih hatiku..Yesus datang menghampiriku dengan tongkat gembala ditangan kananNYA (Maz 23). Aku begitu sukacita melihat DIA sehingga dadaku rasanya mau meledak. Yesus memandang wajahku dengan tatapan penuh kasih dan dengan senyum yang begitu lembut di wajahNYA. Aku memeluk Tuhanku Yesus..kekasih jiwaku.., dan aku tidak melihat lagi rajawali tersebut. Aku hanya berdua dengan kekasih hatiku...Aku bahkan tidak perduli dengan busur dan anak panah yang diberikan padaku..aku begitu hanyut dengan kehadiran Tuhanku Yesus.
Ketika penglihatan itu berakhir, aku mendapati diriku tersungkur di karpet dan tubuhku bergetar hebat sambil terus meratap.

No comments:
Post a Comment